Senin, 15 Oktober 2012

Benar - Salah - Baik - Buruk


Suatu hari di tahun 1992, satu tahun sebelum ayah saya kembali menghadap Sang Khalik, saya terlibat pembicaraan yang cukup serius bersamanya. Saat itu kami di rumah sakit, dan saya sedang kebagian tugas jaga. Percakapan hari itu adalah percakapan intensif antara ayah dan anak perempuannya, seolah2 dia tahu waktunya mendampingi saya tinggal sejenak saja. Meskipun didiagnosa sebagai penderita  kanker hati, secara fisik ayah memang tidak terlihat seperti pesakitan. Semua organ tubuhnya masih bekerja dengan baik,kecuali levernya.  Saat itu usia saya 21 tahun, masih tercatat sebagai mahasiswi sebuah universitas. Adrenalin masih deras mengalir, emosi tentunya masih ibarat roller coster,jiwa pemberontak kadang masih meletup-letup. Usia dimana saya menemukan berbagai pengalaman batin,bersua dengan berbagai karakter manusia, bertemu beragam masalah dan berhadapan dengan bermacam-macam konflik. Di kemudian hari saya menyebut usia 20an sebagai  periode pengayaan batin. Lalu ayah saya ujug-ujug berkata, "Kamu sudah berusia 21 tahun.Harusnya sudah tahu mana yang baik dan buruk, sudah mengerti mana yang benar dan salah. Jadi, apapun tindakan kamu, harus mampu menunjukkan KEDEWASAAN kamu.Sekolah yang benar  ya nak.."

 DEG!..Ayah yang biasanya tak banyak bicara, malam itu berbicara sesuatu yang sangat mendalam. Pesan itu terngiang hingga kini. Ternyata menjadi dewasa is simply to understand well how to choose the right or wrong. Hmm...apakah hanya sebatas itu ?..tentu saja tidak. Kalimat yang terucap memang sederhana. Tapi maknanya bisa bersaing dengan dalamnya samudra.  Itu hanyalah sebuah permulaan..hanya sebuah awal yang menjadi dasar moral tuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.Benar-Salah-Baik-Buruk. Konsep mulia yang membedakan antara : pilihan untuk tetap bertahan dengan sifat kekanak-kanakan,bangga dengan emosi yang meledak-ledak a la usia pubertas atau sikap yang mencerminkan seseorang adalah manusia dewasa.  Inilah modal untuk berhadapan dengan realita hidup yang sesungguhnya. Dimana kefanaan akan menyelimuti,dan suara nurani kan acap timbul tenggelam.  Demikianlah, dalam perjalanan hidup kemudian, saya bersyukur karena dikaruniai orang tua yang telah mengajarkan akhlak dan moral. Karena dalam hidup, terbukti betapa pentingnya kita mengerti tentang baik dan buruk, salah dan benar. Tak berlebihan bila ini menjadi sebuah mandatory, dan diharapkan semakin bertambah usia semakin khatam lah kita dalam memahami dan menghayatinya.

Di usia 21 tahun, saya diberi ‘wasiat dan mantra sakti tersebut. Meskipun saat itu terus terang saya berusaha mengalihkan pembicaraan dan mencoba tak ambil pusing. Bukan tak mau mendengar, tapi lebih karena suasana kemudian membuat saya jadi mellow dan mengharu biru karena kata-kata ayah seolah menjadi rentetan dari pesan-pesan yang semakin sering diucapkannya di tengah-tengah deritanya sebagai pasien kanker. Seolah  itu adalah bagian dari pertanda-pertanda yang disampaikan kepada keluarganya bahwa ia tak kan sempat mendampingi saya hingga saya dewasa nanti. Memang benar, beliau kembali ke pangkuan Tuhan, setahun kemudian, beberapa bulan setelah usia saya menginjak angka 22 tahun.

Kata-kata itu terus menari-nari di kepala,bahkan setelah belasan tahun sejak kepergiannya kembali ke surga.Puji Tuhan kalimat tersebut  senantiasa menjadi  sensor nurani saya dalam bertindak. Di tengah keraguan, kalimat tersebut tiba-tiba muncul seperti bubble kalimat di dalam buku komik. Meredam emosi, mengetuk jiwa,meremas hati dan mendinginkan kepala. Tiap kali saya melanggar, hati nurani pun tercabik-cabik,gelisah tak bertepi menggayuti jiwa raga dengan beban rasa bersalah. Sebaliknya,semakin saya menuruti untuk bersikap baik dan benar, serta mengabaikan keraguan dan ketakutan akan resikonya, keberanian itu tiba-tiba memeluk dan langkah ini tak sanggup berhenti. Kebenaran yang erat digenggam itu, ternyata memberikan energi yang luar biasa dan meringankan setiap langkah dalam menjalani kehidupan. Memang, tidak ada yang mudah dalam hidup. Apalagi ketika logika, perhitungan manusia dan rasionalitas mendominasi. Namun dengan modal kalimat dari almarhum ayah, sejauh ini selalu mampu menggedor nurani dan menjadi cahaya yang memandu saya dalam melangkah.  Terima kasih ayah.Kadang saya masih merindukan kalimat-kalimat bijak versi beliau.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar